Sabtu, 08 Mei 2010

Sejumlah Aktivitas Unik Warga yang Tinggal di Tepi Sungai di Daerah Tawang Sari dan sekitarnya, Kecamatan Taman-Sepanjang, Sidoarjo Beserta Suasana Daerah Tersebut

Pada tanggal 23 September 2009, H + 3 lebaran, saya pergi ke rumah teman saya untuk mengerjakan tugas kuliah, sekaligus saya bersilahturahmi dengannya dan keluarganya. Saya berangkat pukul 10.00 WIB dari rumah dan selesai mengerjakan tugas pukul 15.30 WIB. Saya pulang tidak melewati jalan raya besar, tapi, lewat Desa Tawang Sari, karena saya jarang melewati daerah itu semenjak lulus SMA. Rasanya kangen sekali lewat jalan itu. Begitu banyak kenangan yang saya alami dengan jalan dan desa itu. Banyak teman SMP yang tinggal di daerah tersebut, karena letak SMP ku dengan Desa Tawang Sari tidak terlalu jauh tidak seperti letak SMA ku dengan rumah ku (yang menurutnya anak-anak jauh sekali).
Desa Tawang Sari bertetangga dengan Desa Tanjung Sari. Kedua Desa ini tidak begitu "ndeso", karena daerah tersebut juga bersebelahan dengan perumahan Tawang Sari Permai, rumah-rumah penduduknya juga bisa dibilang cukup bagus, ada juga rumah yang cukup besar dan bagus, dan menurut ku, penduduknya juga tidak gaptek (gaptek : tidak bisa menggunakan alat teknologi, seperti handphone, komputer, internet dll), karena sebagian besar pemuda-pemudi di daerah itu bersekolah di SD, SMP, SMA ataupun Universitas yang cukup baik kualitasnya. Namun, "Mengapa masih dibilang desa? Mengapa tidak disebut perumahan?". Mungkin karena di daerah ini masih terdapat sungai yang cukup besar membentang hingga ke arah barat. Sungai ini tidak mempunyai nama, karena ukurannya yang tidak sebesar sungai porong atau bahkan sungai bengawan solo. Ukurannya sama seperti sungai-sungai yang ada di desa. Selain adanya sungai, disana juga masih jarang adanya warnet (warung internet) dan warung fotocopy. Tapi, yang ada hanya warung kopi dan makanan yang sederhana. Karena jarang ada warnet atau warung fotocopy, penduduk sekitar sering pergi ke daerah kemendung, perumahan wisma trosobo jika ingin dan butuh sesuatu untuk di fotocopy bahkan untuk browsing (mencari data via internet), online (membuka facebook, friendster, dll) dan lain sebagainya.
Perumahan Wisma Trosobo, itulah tempat saya tinggal. Sebenarnya, saya sudah punya ide untuk melakukan pengamatan di daerah Tawang Sari dan sekitarnya, namun apakah mungkin desa itu bisa dijadikan laporan deskripsi yang unik?, selalu pertanyaan ku tentang itu. Oleh karena itu, saya tidak berani untuk mengambil topik tentang desa Tanjung Sari. Namun, kenyataan itu berbalik setelah saya pulang dari rumah teman saya di Rabu sore itu. Saya melihat pemandangan yang kurang indah di sekitar desa yang banyak sampah dibuang di bagian itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendeskripsikan desa Tawang Sari dan sekitarnya supaya saya bisa merasa puas bercerita dengan orang lain tentang keadaan yang terjadi di desa tersebut. Karena letaknya tidak cukup jauh dengan tempat tinggal saya, jadi, saya sudah cukup lama mengenal daerah Tawang Sari, Tanjung Sari dan sekitarnya.
Melewati desa itu, saya teringat tugas kuliah dari Bu Nunik (Dosen Ilmu Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR) tentang observasi aktivitas penduduk di daerah sekitar. Akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan pengamatan di Desa Tawang Sari dan sekitarnya. Pada saat saya dalam perjalanan pulang, terlihat banyak penduduk setempat yang memancing di sungai itu. Sungai itu terlihat kotor dan penuh sampah hingga warna sungai tidak lagi berwarna coklat bening, tapi justru berwarna hijau lumut yang keruh. Warna hijau keruh itu berasal dari sampah-sampah warga yang dibuang ke dalam sungai. Hal ini menyebabkan air sungai menjadi tercemar. Saya juga sering melewati daerah tersebut pada malam hari. Saat saya lewat, bau sungai yang tidak sedap itu tercium oleh saya. Di waktu siang, juga terkadang tercium bau tidak sedap itu, tapi, tidak lebih parah daripada waktu malam. Dapat dianalogikan seperti bunga sedap malam, yang notabene mengeluarkan bau yang sedap/wangi di saat malam, tidak di saat siang. Sungai itu tidak hanya berfungsi untuk aktivitas memancing, namun untuk suatu aktivitas yang lain. Suatu hari, saya pernah melihat warga melakukan aktivitas BAB (buang air besar/pup) di sungai tersebut dengan bantuan tangga yang dibuat oleh mereka sendiri. Sehingga di dapat sebuah rumus praktis, apabila di tepi sungai ada alat seperti tangga atau bagian yang dilubangi menyerupai dengan bentuk tangga, maka bagian itu bisa teridentifikasi sebagai tempat pembuangan tinja. Bisa dicoba menggunakan rumus praktis ini untuk mengetahui aktivitas penduduk sekitar secara tidak langsung. Namun, beruntunglah saya pada hari Rabu sore itu, saya tidak melihat aktivitas penduduk yang BAB di sungai seperti yang saya ceritakan di atas. Alhamdulillah, mungkin sudah tidak ada lagi penduduk yang membuang tinjanya di sungai meskipun bagian yang menyerupai tangga itu masih ada.
Selain itu, saya juga pernah melihat anak-anak seusia murid Sekolah Dasar bermain-main air sungai, terlihat seperti anak yang sedang berenang dengan suasana riang dan gembira, seperti layakya anak-anak yang berenang di kolam renang Ciputra Surabaya. Padahal mereka berenang di dalam sungai yang airnya kotor dan penuh sampah di tepi bagian timurnya. Mungkin karena mereka berenang di bagian tepi barat sungai, maka mereka tidak menyadari bahwa ada banyak sampah di sungai tersebut. Sungguh memprihatinkan. Namun, Alhamdulillah ku ucapkan lagi, karena di saat Rabu sore saya melakukan pengamatan, saya tidak melihat anak-anak berenang di sungai lagi, yang saya lihat hanyalah anak-anak yang bermain di tepi sungai, duduk-duduk sambil bergurau.
Pengamatan saya lanjutkan dengan melihat banyak jembatan kecil yang menghubungkan antara jalan satu dengan yang lainnya. Di sana, saya juga melihat seorang remaja yang sedang menyiram tanaman-tanaman yang ada di atas tanggul sungai yang terbuat dari semen dan membasahi halaman depan rumahnya. Namun, air yang digunakan untuk menyiram itu adalah air sungai (yang saya ketahui adalah air sungai itu kotor). Meskipun kotor dan warna airnya tidak nyaman untuk dilihat, dia kelihatan menikmati aktivitas yang dia lakukan itu. Di satu sisi, saya merasa bangga bahwa dia ikhlas untuk menyiram tanaman itu. Namun, di sisi lain, saya ikut merasa bagaimana rasanya saat kita membilas dan membasahi tangan ini dengan air yang tidak sehat dan bersih. Sungguh sangat dilematis.
Saat Rabu sore itu, saya berjalan ke arah barat, maka yang saya lihat adalah, cukup banyak sawah dan lahan kosong (belum dibangun) di bagian kiri, dan banyak perumahan yang dibatasi oleh sungai di bagian kanan. Begitu sebaliknya jika saya ataupun anda berjalan ke arah timur. Lahan kosong ini sering difungsikan sebagai lapangan sepak bola. Area bermain anak-anak ya disinilah.
Ada yang kurang rasanya apabila saya tidak bercerita tentang situasi siang, sore dan malam di daerah tersebut. Situasi di siang hari adalah tenang, sepi, tidak banyak orang yang berlalu-lalang. Situasi yang paling saya suka adalah situasi desa di sore hari, karena terasa sejuk sekali, terhindar dari polusi udara, dan suasana seperti ini cocok untuk menghilangkan penat, stres pikiran sejenak. Sedangkan, situasi desa di malam hari sangat menakutkan dan membuat khawatir jika mengendarai sepeda motor seorang diri tanpa seorang teman, karena mendengar cerita teman SMP ku, sering juga terjadi jambret, perampokan, penodongan sepeda motor. Keadaan sepi juga saya rasa saat malam hari. Namun, ada persamaan dari ketiga situasi itu, yaitu para pengguna jalan tetap menggunakan kecepatan 60 km/jam (bisa dibilang cukup cepat) karena jalan di daerah tersebut jarang dipadati kendaraan. Jadi, dapat dikatakan bahwa jalan di daerah tersebut merupakan jalan alternatif supaya cepat tiba di rumah/daerah yang dituju (daerah yang dituju hanya meliputi daerah trosobo, jatikalang, krian dan sebagainya).
Desa Tawang Sari, Tanjung Sari dan sekitarnya juga terletak di tengah-tengah bangunan pabrik. Jadi, daerah yang sedang saya amati ini ternyata berhubungan langsung dengan sejumlah pabrik.
Bagian utara daerah ini berbatasan langsung dengan kawasan Bambe, Driyorejo, Gresik. Daerah Bambe ini adalah daerah yang penuh pabrik. Sedangkan, di bagian selatan, desa tawang sari, tanjung sari dan sekitarnya berbatasan dengan dua atau tiga pabrik, diantaranya : PT. Asahimas, PT. Omya dll. Untung saja, letak pabrik-pabrik itu tidak terlalu dekat dengan desa. Jadi, kemungkinan air sungai juga tercemar dengan limbah pabrik itu kecil sekali. Kemudian beberapa menit melakukan pengamatan, saya juga melihat aktivitas penduduk yang membuat kolam / tambak ikan dalam bentuk mini di bagian tepi sungai, tapi masih di dalam sungai. Kolam / tambak ikan ini umumnya berukuran sekitar 1 m2, meskipun juga ada yang lebih dari ukuran itu. Kolam atau tambak kecil itu dibuat dari kayu untuk tiangnya, dan sesuatu seperti kasa (bahan yang biasanya digunakan untuk menyaring santan, bentuknya mirip seperti itu). Kasa ini dijadikan alat untuk menutupi bagian luar kolam kecil itu. Dan menurut saya, kasa itu dijadikan alat untuk melindungi air yang sudah dibendung di dalam kolam, supaya sampah/kotoran yang ada tidak masuk ke dalam kolam tersebut. Saya juga menduga bahwa kolam ini digunakan untuk budidaya ikan, yang nantinya dijadikan lauk-pauk makanan sehari-hari. Saat musim penghujan, saya pernah melihat fenomena yang sama, namun lebih banyak kolam yang dibuat. Berbeda pada saat Rabu sore, saat saya melakukan pengamatan.
Biasanya pada musim penghujan, air sungai meluap dan banyak ikan disana. Hal ini dimanfaatkan warga untuk membuat kolam kecil-kecilan untuk budidaya ikan. Tetapi, tidak semua warga membuat kolam kecil ini, hanya beberapa warga saja. Yang pasti jelas adalah mereka memelihara ikan di dalamnya. Ikan itu hidup di sungai yang airnya tercemar oleh sampah. Maka, kemungkinan beberapa ikan yang ada di tambak kecil itu tercemar atau keracunan juga besar. Apabila ikan yang dipelihara untuk dikonsumsi ini tercemar, maka warga yang mengkonsumsinya memiliki kemungkinan untuk terjakit penyakit juga cukup besar.
Penyakit yang akan menyerang biasanya beragam, tergantung penyebabnya. Jika karena mengkonsumsi air atau ikan yang tercemar tadi, bisa etrserang penyakit muntaber, diare. Tapi, berbeda apabila berenang di dalam sungai yang tercemar tersebut, maka akan terserang penyakit kulit. Dan apabila digigit nyamuk yang bermuara di daerah air yang tergenang dan tidak bersih, maka bisa terserang penyakit demam berdarah (DB). Semua penyakit di atas adalah penyakit yang berbahaya. Sebisa mungkin pemerintah memperhatikan hal ini.
Menurut saya, tidak hanya warga yang membuat kolam itu akan mengkonsumsi ikan tercemar, tetapi, untuk warga yang memancing mungkin juga bisa terserang penyakit yang mempunyai merk dan brand yang sama. Banyak bunga teratai juga yang tumbuh di dalam sungai tersebut. Namun sayang, teratai indah itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya dia tumbuh. Selain melihat teratai itu, saya juga melihat bentuk dan susunan yang aneh, yaitu tinggi sungai yang jauh lebih besar daripada rumah penduduk. Memang hanya beberapa sih, tetapi, hal ini bisa mengancam keutuhan rumah penduduk karena air sungai yang meluap saat musim penghujan tiba. Karena rumah penduduk berada di bawah tanggul-tanggul sungai, maka sesegera mungkin untuk mencari rumah baru lagi guna melakukan penyelamatan dini.
Observasi pun saya lanjutkan, saya kembali melihat fenomena unik di desa tersebut, yaitu air sungai terlihat meluap, atau bisa dikatakan air sungainya banjir, terbukti melalui tinggi air sungai sekitar 0,5 meter dari atas tanggul sungai meskipun saat ini sedang musim kemarau. Musim kemarau adalah musim dimana tidak turun hujan. Namun, justru di musim kemarau yang benar-benar tidak turun hujan, air di sungai itu meluap lagi. Ada apa sebenarnya? Menurut saya, masalah ini disebabkan karena tersumbatnya saluran air sungai karena banyaknya sampah yang dibuang warga di dalam sungai. Sungai bukanlah tempat untuk membuang sampah.dapur dan sampah jenis lainnya. Namun, sungai lebih berfungsi untuk memperindah jalan yang dibatasinya dengan bunyi-bunyi aliran sungai yang sejuk dan menyegarkan.
Selain tinggi sungai yang saya amati, saya juga menemukan kejanggalan lagi. Di desa tawang sari, di bagian sebelah kiri jika kita ke arah barat, terlihat ada tulisan PDAM (Perusahaan daerah Air Minum). PDAM adalah perusahaan yang mengelola air bersih untuk masyarakat. Letaknya sekitar 3 meter dari sungai. Karena letaknya ini, membuat banyak orang curiga bahwa air yang dibelinya itu berasal dari air sungai yang tercemar yang kemudian diolah lebih lanjut. Prasangka-prasangka buruk ini seharusnya tidak muncul apabila tatanan dan letak PDAM telah sesuai dengan standard lokasi dan kebersihan lingkungannya. Tetapi, kita tidak boleh berburuk sangka dengan tempat PDAM yang ada, karena mungkin saja meskipun tempatnya berdekatan dengan air sungai yang tercemar, sistem penyaringan dan pengolahannya terakreditasi A (memiliki kualitas yang sangat baik). Namun, tidak ada salahnya juga, apabila daerah sekitar lokasi Perusahaan Daerah Air Minum itu juga ikut menjadi bahan pertimbangan layakkah PDAM itu dibangun di daerah tersebut. Hikmah dan manfaat yang dapat saya ambil dari hasil observasi ini adalah lebih mengutamakan gaya hidup sehat, daripada gaya hidup mewah, karena tanpa kesehatan, kita tidak akan bisa merasakan kemewahan yang kita miliki. Demikianlah penjelasan dan deskripsi yang dapat saya ceritakan dan jelaskan. Apabila ada kata-kata yang kurang tepat dari deskripsi ataupun pendapat saya pribadi, mohon dimaafkan. Sekian. Terima kasih.

Senin, 22 Maret 2010